Keluarga

 Untuk sebagian orang keluarga adalah rumah pertama tempat kita belajar, tentang cinta, konflik dan cara memaafkan. 

Kenalin nama aku ara, aku terlahir dikeluarga broken home dari sejak umur 2tahun dan aku juga anak pertama dikeluargaku.

Akan tetapi dirumahku, keberadaan ayah seperti sebuah monumen yang bisu.ia ada,duduk dikursi favoritnya disudut ruang tamu, atau tertidur dibalik pintu kamar yang tertutup rapat. Namun, bagiku dan hatiku, ia hanyalah sebuah bayangam yang gagal menyentuh realita hidupku. Aku memang memiliki seorang ayah, tapi aku tidak pernah benar-benar memiliki "peran" ayah dalam pertumbuhanku. 

Hanya ibulah yang selalu ada dihidupku yang bisa menjadi tempat bercerita dan sandar, terkadang ibu juga selalu merenung sembari menangis sendirian dikamarnya dan aku selalu berfikir apakah aku bisa sekuat dan sehebat ibu ketika aku berada dipase seperti ibu, tanpa seorang ayah pun ibu bisa menggantikan perannya selalu bekerja keras untukku dan membiayai semua kebutuhan.

Setiap kali aku melihat teman-temanku bercerita tentang nasehat ayah mereka,aku hanya bisa tersenyum. Bagiku, sosok ayah hanyalah pemberi nafkah yang menjalankan kewajibannya seperti mesin. Tidak ada percakapan tentang impianku,tidak ada pelukan saat aku terjatuh, dan tidak ada bimbungan saat aku kehilangan arah. Aku menyadari bahwa memiliki sosok ayah dalam kartu keluarga tidak menjamin aku memiliki sandaran dalam hidupku. Terkadang aku membutuhkan waktu sendirian untuk merenung dan bercerita kepada ibuku tetapi ibuku selalu berpesan "nak ketika besar nanti dan kamu sudah dewasa jangan mencari laki-laki yang seperti ayahmu ya, dan kamu juga harus jadi anak yang sukses dan berprestasi agar ayahmu tau kalau meskipun kamu tidak diurus oleh ayah tapi kamu bisa sukses" hanya pesan itulah yang selalu aku ingat dari ibuku.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun silih berganti ayahku tidak pernah menemuiku lagi sejak ayahku berpisah dengan ibuku, semakin aku menginjak dewasa aku tidak pernah lagi bercerita kepada ibuku aku lebih memilih untuk memendamnya sendirian karna aku tau bahwa pekerjaannya banyak dan bukan hanya mendengarkan ceritaku saja.

Namun ada rasa iri ketika melihat keluarga lain masih utuh, ada juga rasa lega karena tidak perlu lagi mendengar teriakan detengah malam.

Aku belajar bahwa perpisahan mereka bukanlah kesalahanku, meski hati ini sering kali merasa hancur,aku mulai mengerti bahwa mingkin mereka lebih baik menjadi dua orang yang bahagia secara terpisah daripada sepasang yang saling melukai saat bersama. Meski kebersamaaan kami tak lagi utuh, aku berusaha untuk meyakini bahwa kasih sayang mereka kepadaku tak ikut terbelah dua. 

Sekian.......

Komentar